Ratusan Balita Tak Pernah Diimunisasi, Posyandu Tidak Ada di "Grey Area"

Oleh Saiful Rizal JAKARTA - Sebanyak 330 anak usia 0-5 tahun yang tinggal di Kampung Beting, Kelurahan Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara tidak memperoleh imunisasi yang lengkap dalam 10 tahun terakhir.

Bahkan, 10 persen di antaranya belum pernah memperoleh imunisasi. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya pos pelayanan terpadu (posyandu) di kawasan ini.

Akhirnya, sosialisasi tentang pentingnya hidup sehat tidak pernah diterima warga di sana.

Hal itu dibenarkan salah satu warga yang telah tinggal di Kampung Beting selama lima tahun, Supinah (31). Ibu empat anak ini mengatakan bahwa keempat anaknya memang tidak pernah memperoleh imunisasi dengan lengkap.

Menurut Supinah, biasanya anak-anaknya diberi imunisasi saat baru lahir oleh bidan yang membantu persalinannya.

"Tapi, saya tidak tahu imunisasi apa itu. Hanya anak pertama saya yang diimunisasi sebanyak tiga kali, yang saya ingat salah satunya imunisasi polio", ujar perempuan yang tinggal di Blok B, Kampung Beting, Koja, Sabtu (11/6).

Bahkan, Supinah mengatakan, anak ketiganya yang bernama Muhammad Akbar Firdaus (3), pernah menderita gizi buruk saat umurnya menginjak satu tahun. Hal itu karena putranya hanya satu kali diimunisasi.

Kondisi itu terulang pada putra bungsunya, Muhammad Ridwan yang kini berusia 11 bulan. Menurutnya, hingga kini Ridwan hanya satu kali diimunisasi, yaitu ketika ia baru dilahirkan. Namun, Supinah tidak tahu imunisasi apa yang diberikan ke anaknya itu.

Dia mengaku tidak pernah membawa putra-putrinya ke puskesmas karena trauma. Ia pernah merasa terhina oleh ucapan salah satu bidan di puskesmas saat akan memeriksakan kehamilannya.

"Aduh Ibu, ngapainpunya anak banyak-banyak, orang susah saja pakai banyak anak", ujar Supinah menirukan ucapan salah satu bidan di puskesmas yang berada di wilayah Kelurahan Tugu Utara ini.

Semenjak itu, ia tidak pernah mau datang ke puskesmas ataupun rumah sakit karena takut dihina lagi. Persalinan anak ketiga dan keempat dilakukannya di bidan yang membuka praktik.

Dia juga tidak mengetahui mengapa di Kampung Beting hingga kini tidak ada posyandu. Menurutnya, yang tidak mau ke puskesmas bukan hanya dirinya, tetapi hampir seluruh warga di Kampung Beting.

"Kami memang orang susah, tetapi kalau dihina dan selalu dipersulit saat berobat, kami jelas tidak mau", ucapnya.

Kondisi yang sama dialami Minah (36). Ibu empat anak ini mengatakan, keempat anaknya tidak memperoleh imunisasi lengkap.

Salah satunya karena tidak ada posyandu di kawasan yang dianggap oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai daerah abu-abu atau greyareaini.

"Anak pertama hingga ketiga pernah diimunisasi meskipun hanya sekali. Putri (3), anak keempat saya, yang belum pernah diimunisasi", ujar Minah.

Dia mengatakan, di dekat Kampung Beting memang ada posyandu yang dikelola warga yang wilayahnya memiliki pranata sosial atau RT dan RW.

Namun, ketika mencoba mendatangi posyandu yang ada di salah satu RW di Kelurahan Tugu Utara itu, ia tidak terlalu dianggap. Kondisi serupa, menurut Minah, juga dialami warga Kampung Beting lainnya.

"Kalau posyandunya ada di sini (Kampung Beting), pasti warga akan rajin datang", Kata Minah.

Dihuni 750 Keluarga

Berdasarkan data yang dimiliki Forum Masyarakat Menggugat (Formagat), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli dengan Kampung Beting, saat ini di kawasan yang memiliki luas hingga 4,5 hektare dan ditinggali 3.500 jiwa dari 750 keluarga ini, terdapat 386 balita. Sebanyak 86 persennya belum mendapatkan imunisasi lengkap.

"Bahkan, 10 persen di antaranya sama sekali belum pernah diimunisasi. Hal itu karena persalinannya dibantu dukun beranak, bukan bidan terlebih lagi dokter", ujar Ricardo Hutahaean, Ketua Formagat Kampung Beting, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Ricardo mengatakan, tidak adanya posyandu di Kampung Beting merugikan warga di sana. Bahkan, kata Ricardo, di Kampung Beting sangat sering terjadi kasus gizi buruk pada balita.

Ricardo juga menyayangkan sikap petugas di puskesmas maupun di posyandu yang tidak mau menerima warga Kampung Beting, hanya karena statusnya sebagai daerah yang dicap ilegal oleh pemerintah.

Menurutnya, saat ini pihaknya sedang mencoba bekerja sama dengan Puskesmas Tugu Utara III untuk membuat posyandu di Kampung Beting. Bila tidak ada halangan, pada akhir Juni atau awal Juli 2011, posyandu sudah ada di Kampung Beting.

Hal itu dibenarkan Kepala Puskesmas Tugu Utara III, dokter Endang. Menurutnya, pihaknya tinggal menunggu kesiapan warga Kampung Beting terkait tempat dan kader posyandunya.

Rumah Tangga Miskin

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, saat ini di DKI Jakarta ada 165.000 rumah tangga miskin. Dari angka tersebut, Jakarta Utara tercatat yang terbanyak, mencapai 58.827 rumah tangga. Mereka tersebar merata di 356 lokasi permukiman kumuh.

Jumlah rumah tangga miskin itu, menurut Ricardo, belum termasuk warga yang tinggal di grey area. Saat ini sedikitnya terdapat 22 lokasi hunian yang dianggap liar oleh Pemda DKI yang dihuni puluhan ribu keluarga.

"Saat ini saja, di Kampung Beting tercatat ada 750 keluarga yang terdiri dari 3.500 jiwa", ujar Ricardo.

Dia mengatakan, warga dianggap ilegal karena tinggal di daerah yang bersengketa, seperti di Tanah Merah Plumpang, Kampung Sawah Cilincing, Kebon Tebu, Penjaringan, Jakarta Utara. (Sinar Harapan online 13/6/2011)