Delapan Perempuan "insinyur" Panel Surya Kembali ke Tanah Air

Delapan perempuan 'insinyur" panel surya berfoto bersama dengan Ibu Anie hashim Djojohadikusumo dan Duta Besar India setelah konferensi pers
Delapan perempuan 'insinyur" panel surya berfoto bersama dengan Ibu Anie hashim Djojohadikusumo dan Duta Besar India setelah konferensi pers

Delapan orang ibu-ibu yang sejak September 2013 lalu mengikuti pelatihan merakit, instalasi dan perbaikan panel surya  di India  tiba kembali di tanah air pada  hari minggu tanggal 16 Maret 2014. Kedelapan ibu tersebut: Agnes Dalima, Indo Intan, Domingas De Jesus, Hanafia, Maria Adelfina, Maria Karolina, Olandina Ranggel, Rasmi, semuanya berasal  dari provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), selama 6 bulan berjuang dan  belajar untuk memahami seluk-beluk teknologi panel surya, mulai dari mengenal komponen, merakit, memasang  dan memperbaikinya.

Intan, salah satu peserta pelatihan panel surya di Barefoot College, India menujukkan karyanya
Intan, salah satu peserta pelatihan panel surya di Barefoot College, India menujukkan karyanya

Kedatangan ibu-ibu tersebut memberi kebahagian bagi semua pihak, khususnya bagi Yayasan Wadah Titian Harapan yang dengan aktif mendukung program ini. Sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke NTT, Yayasan Wadah Titian Harapan bekerja sama dengan  Kedutaan Besar India di Jakarta mengadakan jumpa pers di Kedutaan Besar India di Jakarta pada tanggal 18 Maret 2014 dengan menghadirkan kedepalan perempuan luar biasa tersebut.

Jumpa pers dilakukan untuk memperkenalkan dan menjelaskan kerja sama antara Yayasan Wadah, Barefoot Collage dan Pemerintah India sekaligus memperkenalkan ibu-ibu “insinyur” panel surya tersebut. Hal yang sangat mengagumkan dalam jumpa pers ini adalah ketika kedelapan perempuan buta aksara tersebut dapat menjelaskan secara rinci dan teknis tentang berbagai komponen, perakitan dan pemasangan panel surya.

Hadir dalam jumpa pers ini antara lain Duta Besar India, beserta stafnya. Sedangkan dari Yayasan Wadah Titian Harapan hadir Ibu Anie Hashim Djojohadikusumo, pembina Wadah dan beberapa staf. Esoknya 19 Maret 2014, kedelapan  ibu-ibu tersebut bertolak  menuju NTT untuk berjumpa kembali dengan keluarga mereka yang sudah ditinggalkan selama enam bulan.  (RR)