Kita Guru, Sekaligus Murid

NBCL+Dirman.JPG

Dari dalam NBCL terdengar suara tarhim bersahutan dari menara masjid. Pertanda sudah tiba waktu Sholat Ashardan  harus segera ke komunitas.  Hari ini, Jumat, ada jadwal untuk pendar (pendampingan belajar) di Rumbata.

Sore itu, di ruang lain NBCL, asyik kami duduk menyeruput kopi dan bicara tentang resep yg belum selesai. 

Cecep: "Bro, saya lagi ada urusan sebentar. Saya nitip barang-barangdan  kopi ini  yaa.. sorry agak berantakan"

Dimas: "Iya, gak apa-apa. Dari dulu kamu memang sering begitu kok.."

Sambil tertawa, bunyi langkah Cecep mulai sayupterdengar melangkah keluardandalam sesaat, hilang batang hidung dari pandangan.

Saya dan Dimas kembali ke laptop. Ada film yang baru saja selesai kami tonton. Sebetulnya suasana hati kami masih asyik-asyiknya untuk nonton, tapi yaa sudahlah, ada panggilan lain yang harus kami kerjakan di Kalumata.

Dimas: "Bro, hari ini ada jadwal di Rumbata ya?"

Saya: "Iya. Tapi bentar, saya copy dongengnya anak-anak duluya"

Saya berdiri dan mencari kumpulan dongeng untuk di copy. Setelah selesai,  saya dan Dimas siap on the wayke Rumbata (Rumah Baca Kalumata). Melihat penampilan Dimas penuh gaya, tampak darinya semangat yang luar biasa. Sayapun pergi ke kamar untuk mengambil topi dan merapikan diri. 

Hari ini, kami tidak membawa ransel yang berisi buku seperti biasanya setiap kali ada kelas pendar. Hanya ada beberapa lembar dongeng yang sudah dipilih, satu spidol berwarna merah dan empat surat untuk anak-anak.

Usai segala persiapan, kami berdua pun naiksepeda motor. Melihat gelap langit tak bersahabat, membuat kami berdiam sejenak. Menatap ke atas penuh harap (semoga) tidak pulang dalam keadaan basah, atau hujan sebelum tiba kami di Rumbata.

Saya: "Bro, sepertinya agak galap yaaa"

Dimas: "Akh.. bagaimana ini bro. Mau hujan lagi ni.." "Tak apa. Tancap saja. Ini awan cuma kemungkinan" tegas saya menguatkan hati.

Jarak beberapa meter dari NBCL, tiba-tiba di kepala saya muncul satu kalimat bahasa Inggris. "We a teacher, but we a  student".Saya kemudian menyuarakan kalimat itu tanpa sadar. Mendengar kalimat yang tata bahasanya belum baik, Dimas mulai membetulkannya, "We are a teacher. But we are also a student" 

Benar. Kita adalah guru. Tapi kita juga adalah murid. 

Saya terus mengulangi kalimat itu dalam hati. Serupa zikir untuk jiwa yang hampir mati.

Singkat cerita, tibalah kami di Rumbata pada pukul 16.04. 

Anak-anak kecil seperti Nadia, Tia dan Denis menyambut gembira kedatangan kami berdua. Sedangkan Abu (nama orang), dan dua anak lagi malah lari bersembunyi. Takut dipanggil karena sedang asyik main game.

Setelah memarkir kendaraan, kami beranjak masuk ke rumah baca bersama anak-anak. Baru ada lima orang anak. Sebagiannya lagi masih belum menunjukkan rupa. Jelang beberapa menit, anak-anak (kategori kelas atas) belum juga tiba. Dari pada menunggu lama, saya pikir sebaiknya kita mulai saja belajarnya.

"Ayo, stop dulu teriaknya. Nadia, tolong bantu kak Dirman  pimpin doa yaa" pinta saya pada anak-anak agar tenang. Anak-anak sama sekali tidak bisa diam. Mereka semua benar-benar tak ingin diganggu waktu bermainnya.

Saya dan Dimas berusaha bersabar, menahan diri menghadapi keadaan ini. Sedangkan Nadia, yang ditunjuk  memimpin doa, berteriak-teriak meminta agar adik-adiknya diam. Toh sama saja.

"Bro..." sapa Dimas kepada saya dengan ekspresinya ingin tertawa. Saya mengerinyitkan kening sebagai tanda.  

"Siapa yang pernah mendengar cerita tentang neraka?", tanya saya pada mereka. Upaya itu membuat mereka diam walau sejenak. 

"Saya pernah. Ada apasama malaikat?"

"Saya juga.. "Heeehh kamu diam. Kak Dirman tidak tanya ke  kamu"  anak-anak berebut menjawab.

"Berhasil.." bisik saya dalam hati. 

Saya kemudian mulai bercerita tentang neraka yang sempat saya tanyakan. Anak-anak terlihat antusias melihat saya mulai berdiri memperagakan cerita. 

"Di jaman dulu, ada seorang pemuda yang tengah berjalan membawabotol berisi air di tangan kanannya" saya bercerita sambil memperagakan isi cerita yang ada. 

Lanjut saya.. "Lalu datanglah seorang kakek, yang langkahnya berayun gemetar. Sang kakek itu ternyata hendak meminta air pada si pemuda". Anak-anak jadi serius menyimak. Sesekali mereka tertawa karena melihat saya yg kakinya gemetar saat memerankan karakter si kakek." "Oi pemuda... Bolehkah saya minta sedikit air? Saya haus sekali" " 

Sampai pada akhir cerita, saya kemudian menarik kesimpulan cerita, "Nah.. si pemuda tadi ketika mati, dia masuk neraka dan disiksa karena durhaka pada gurunya.... Jadi, kalau kak Dirman dan kak Dimas lagi bicara, harus de?" "Dengaaaarrrr..." sambung anak-anak dengan keras.

Usai membuat anak-anak diam, beberapa anak yg sudah besar mulai menunjukkan rupa. 

"Kak Dirman, hari ini belajar apa?",  "Kakak mau bagi kelompok dan kasi dongeng hari ini. Tapi cuma kalian berdua?" Tegas saya kepada yg baru datang.  

"Kalau bagitu main tebak-tebakan saja.." tawaran dari salah satu anak yang membuka pikiran saya. 

Betul, saat berada dalam kelas yang anak-anaknya punya perbedaan usia yg cukup jauh, sebaiknya jangan mengambil satu pilihan yg membuat anak-anak lain jadi tak bersemangat karena permainan yang tidak sesuai dengan usia mereka. Akhirnya saya memilih main tebak angka. Kiranya ini permainan yang pas denganusia mereka, dan lumayan mengolah imajinasi anak-anak dalam membayangkan hewan apa yang pas untuk setiap angka yang ditulis. Saya sebagai penuntun jalannya permainan dan Dimas turut membakar semangat anak-anak. 

Saya kemudian menulis angka 2 di papan, dan bertanya, "Ini angka berapa?" "Duaaaaaa" 

"Bahasa Inggrisnya apa?" "Tuuuuu"

"Kira-kira bisa jadi hewan apa kalau di kasi sambung?" "Ikaannn" jawab salah satu anak, Tia namanya. 

Dimas kemudian mengarahkan Tia untuk maju dan menyambungkan angka 2 tadimenjadi gambar ikan. Setelah Tia maju dan memegang spidol, saya kemudian memintanya untuk menggambarnya.

"Ayo Tia, coba gambar" pinta saya dengan wajah ceria.

"Kak Dirman ajarin Tia gambar ikan dulu.." mendengar itu, tawa anak-anak membahana dan tepuk tangan meriah menyambut semangat Tia yg luar biasa. 

Sampailah kami pada akhir permainan setelah beberapa angka di pecahkan teka-tekinya. Dan yg tidak disangka adalah, anak-anak kembali ribut dengan suara besar seperti sebelumnya. 

Suasana jadi tidak terkontrol. Saya dan Dimas memilih untuk membiarkan mereka bermain dengan cara mereka yang ada. 

Saya: "Bro, hari ini luar biasa. Ade Fajar dengan Opik di Fora dua kalah jauh berisiknya"

Dimas "Iya yaaa.. astaga... Kita sampai ga tau lagi harus  bikin bagaimana yaaa". Sambil tertawa puas, kami memilih untuk istirahat sebentar, ada teh yg sudah disediakan oleh bu Ani yg baik hati.  

Sudah pukul 17.58. ini waktunya pulang.

"Ayo masuk. Kita berdoa. Sudah jam enam". Teriak saya pada anak-anak yg sedang bermain di luar. 

Setelah selesai berdoa, kami pun bersalam-salaman. Dengan tak lupa menitip pesan "jangan lupa sholat" pada anak-anak.

Ruangan kembali sunyi. Hanya ada saya, Dimas dan ibu Ani yg berdiri di depan pintu rumah baca. 

"Hari ini Tuhan benar-benar uji kesabaran kita" Ucap saya memecah keheningan.


-Dirman